Kemuliaan menyendiri dan implikasinya terhadap inovasi
*Oleh : Syarifuddin A. Na’tonis
Seringkali kita mendengar istilah yang menyatakan bahwa pekerjaan diam adalah emas, pernyataan ini bukanlah isapan jempol belaka, karena selain dengan lebih memilih diam berarti lebih menutup kesempatan untuk tertutupnya hati kita, pekerjaan diam yang disertai dengan kegiatan merenung akan lebih membuka kesempatan kita untuk mendekatkan diri terhadap sang pencipta Allah SWT. Diam dalam pengertian ini adalah diam karena memang pekerjaan diam tersebut sebagai alternative terbaik diantara sekian alternative lainnya, yang dimana dengan pekerjaan diam yang kita pilih lebih membuka kesempatan kita untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran inovatif.
Tidak sedikit orang yang berhasil menghasilkan inovasi-inovasi terbaru sebagai hasil dari pekerjaan merenung. Contoh konkrit dan sederhana, seperti yang kita ketahui bersama bahwasannya Filsafat yang merupakan induk dari semua ilmu pengetahuan yang ada di alam semesta ini hanyalah diperoleh lewat kegiatan berfikir dan merenung.
Berfikir inovatif berarti berfikir dengan berusaha untuk merangkaikan atau menghubungkan seruntutan peristiwa-peristiwa masa lampau yang telah dijalani dan masa sekarang yang akan dijalani untuk menghasilkan kesimpulan terpenting demi menunjang penemuan akan inovasi-inovasi terkini. Bukankah telah jelas juga digambarkan dalam Al-Qur’an :
“dan barang siapa yang mengambil hikmah (dari setiap kejadian yang dialaminya), maka sungguh ia telah beroleh kebaikan yang banyak”
Satu yang menjadi kebenaran umum dan tidak bisa dipungkiri, bahwasannya hikmah hanyalah akan diperoleh melalui pekerjaan merenung, merenungi tahap demi tahap peristiwa yang telah dilewati.
Manfaat lainnya adalah, pekerjaan berdiam diri akan menahan diri dari menggunjingkan orang lain, banyak tertawa dan hal-hal lain yang yang dapat membuat hati sekeras batu nisan. Lagipula, bukankah telah jelas digambarkan oleh baginda Nabi Muhammad SAW, bahwasannya pekerjaan banyak tertawa membutakan mata hati dan mengaburkan kepekaan indra perasa terutama yang berhubungan dengan hati.
Dengan lebih memilih untuk berdiam diri terhadap hal-hal yang tidak berguna nilai seseorang menjadi sangat tinggi. Ia laksana matahari atau purnama yang tersembunyi dibalik gumpalan awan, atau laksana mutiara yang terpendam didasar lautan.
Dengan lebih memilih untuk berdiam diri terhadap hal-hal yang tidak berguna wibawa dan kehornatan dapat terjaga, dapat melindungi dari pencurian watak dan karakter, karena sesungguhnya watak adalah penggerak utama pencuri kebiasaan-kebiasaan tanpa memandang kebiasaan baik atau buruk yang ditiru. Jika kita bergaul dengan orang-orang yang suka menyia-nyiakan usia, niscaya prilaku mereka akan mencuri kebiasaan-kebiasaan baik kita. Akibatnya, kita yang pada awalnya adalah pribadi yang giat berikhtiar akan berubah menjadi pribadi yang gemar bermalas-malasan, tidak punya visi-misi hidup dan kerjanya hanya berangan-angan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar