Esensi Kholifah
Oleh : Syarifuddin A. Natonis
Allah menciptakan segala sesuatu yang ada didunia ini dengan tidak Cuma-Cuma, dan diantara sekian banyak ciptaan Allah tersebut tentulah yang paling sempurna adalah manusia, dikarenakan manusia dilengkapi dengan akal untuk berfikir dan merenungi segala sesuatu perihal ciptaaan Allah SWT. Lain halnya dengan hewan yang sekalipun mempunyai kepentingan yang notabene hampir sama dengan manusia, hewan tetaplah mempunyai perbedaan dengan manusia. Persamaan-persamaan itu diantaranya adalah sebagai berikut, manusia bergerak hewanpun bergerak, manusia mwmbutuhkan oksigen (O2) untuk berespirasi hewanpun demikian adanya, manusia butuh makanan, minuman, dan tempat tinggal hewanpun butuh, dan masih banyak lagi persamaan lainnya hingga tidak salah rasanya jika ada yang mengatakan bahwa manusia adalah hewan yang berfikir, sekalipun istilah ini terdengar sedikit kasar.
Jika sekali-kali kita ingin bertanya, mengapa hewanlah yang paling sering dipersamakan dengan manusia, hal tersebut karena memang ciptaan Allah yang memiliki paling banyak persamaan dengan manusia adalah hewan. Hanya saja yang membedakan manusia dengan ciptaan Allah yang lainnya adalah kembali kepada kenyataan bahwa manusia dianugerahkan akal sedangkan hewan apalagi tumbuhan tidak.
Benar adanya, bahwa pada kenyataannya terkadang menusia memang tidak mengoptimalkan potensi akal yang dimilikinya sehingga yang timbul adalah kekacauan dan kerusakan dimuka bumi, bukannya kemaslahatan, seperti halnya yang dikhawatirkan para malaikat ketika Allah SWT memberitahu kepada mereka dalam surat Al-Baqoroh, bahwasaannnya Allah akan menciptakan kholifah diatas dunia yang bernama manusia, kemudian para malaikat bertanya kepada Allah, apakan bentuk pengtauhidan para malaikat yang selama ini senantiasa mereka haturkan kepada Allah masih kurang sehingga Allah berencana untuk menciptakan makhluk lain selain mereka diatas dunia ini. Dan Allah SWT hanya menjawab sesungguhnya yang maha mengetahui hanyalah Dia seorang.
Kholifah sendiri berarti pemimpin yang dimana didalam pengertian ini, manusia tidak hanya sebagai pemimpin atas kaumnya, akan tetapi juga menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu, sudah semestinya kita menyadari dengan sepenuhnya bahwa pada hakikatnya kita semua adalah pemimpin, dan yang membedakannya hanyalah apa dan siapa yang dipimpin.
Wallahua’lam bisshawab…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar