Islamisasi Ilmu & Problematika Internal
Oleh : Syarifuddin Al-Ghifari Natonis
Al-Qur’an merupakan maha karya dari Allah yang pernah ada, kehebatannya tidak perlu diragukan lagi hingga akhir zaman nanti, bahkan dengan sangat jelas didalam Al-Qur’an Allah menantang siapa saja yang ingin mencoba untuk menandingi kehebatan Al-Qur’an dari semua sisi. Tidak heran jika beberapa dekade terakhir ini banyak sekali pembuktian sains ditemukan oleh para ilmuwan, baik limuwan muslim maupun non muslim, yang sangat erat kaitannya dengan penjelasan tentang sains yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hal ini mendorong munculnya rumor yang dihembuskan mengenai Islamisasi Ilmu Pengetahuan.
Kenyataan ini lumrah adanya, karena beberapa dekade terakhir banyak sekali penemuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang hanya mampu ditemukan dengan peralatan-peralatan canggih abad ke-20 ini, yang dimana seolah-olah penemuan-penemuan tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Islam, terutama Al-Qur’an, sedangkan pada faktanya, jauh (1400 tahun silam) sebelum adanya penemuan-penemuan tersebut oleh para ilmuwan, Al-Qur’an telah terlebih dahulu menjelaskannya secara garis besar, bahkan teori Relativitas Waktu_nya Albert Einstein terdapat Al-Qur’an. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah, apa saja yang dilakukan ummat muslim selama ini, sehingga justru yang serius melakukan eksperimen-eksperimen yang berujung kepada penemuan adalah ummat non muslim (Nashrani, Yahudi, dsbg) ?, hingga kesan yang pada akhirnya muncul ke permukaan dan semakin menguat adalah hal paling maksimal yang mampu dilakukan oleh ummat muslim hanyalah sebatas membangga-banggakan kejayaan Islam dimasa lalu (Dinasti Abbasiyah), tanpa ada usaha untuk mengulang kembali kejayaan tersebut.
Menyikapi kenyataan ini, memasuki abad ke-15 Hijriah ada segolongan ulama Muslim yang berupaya untuk membangkitkan kembali kejayaan yang pernah ditorehkan beberapa abad sebelumnya, terutama dalam bentuk sumbangan karya para ulama Muslim terhadap perkembangan peradaban modern. Gerakan beberapa ulama Muslim tersebut berlandaskan terhadap beberapa alasan, terutama karena fakta yang terjadi adalah perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK) yang terjadi pada peradaban modern masa kini seolah – olah meniadakan peran Islam terhadap kemajuan yang tengah terjadi pada segala aspek kehidupan, dunia lebih meyakini bahwasannya yang menjadi pijakan utama dalam perkembangan peradaban modern adalah hasil pemikiran trio filsuf Yunani Kuno (Socrates-Plato-Aristoteles). Sehingga keyakinan semacam ini yang pada awalnya hanya diyakini dan diwariskan turun temurun oleh bangsa Yunani Kuno dan agama Nashrani, pada akhirnya diyakini pula oleh ummat Muslim sendiri, tanpa adanya usaha terlebih dahulu untuk mengadakan sebuah tabayyun (riset).
Menyadari hal ini, momen abad ke-15 Hijriah dimanfaat oleh sekelompok ulama muslim yang kebetulan berdomisili di Amerika Serikat dan tergabung kedalam International Institute Of Islamic Thought (IIIT) dengan menjalin kerja sama bersama Pakistan dalam mengadakan seminar internasional pertama yang mengangkat tema Islamization Of Knowledge, dan diselenggarakan di Islamabad. Tema yang diangkat tersebut terus bergulir, salah satu makalah yang disajikan dalam seminar tersebut adalah makalah milik Prof. Isma’il Al-Faruki yang pada akhirnya paling banyak mendapat sorotan dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan beberapa ulama Muslim yang sudah terlanjur mempunyai keyakinan yang sama dengan para ilmuwan non Muslim.
Islamisasi Ilmu yang digagas oleh Prof. Isma’il Al-Faruki dkk. Memiliki beberapa rencana kerja, diantaranya adalah ;
1. Penguasaan disiplin ilmu modern
2. Penguasaan warisan Islam
3. Penentuan relevansi khusus Islam dalam segala bidang pengetahuan.
4. Pencarian metode-metode untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan peradan modern.
5. Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola ilmiah dari Allah.
Terkait dengan Islamisasi ilmu pengetahuan yang sangat erat kaitannya dengan maraknya penafsiran ayat Al-Qur’an yang memiliki kaitan dengan ruang lingkup sains, membawa kekhawatiran tersendiri dikalangan para ulama, terutama ulama-ulama Al-Qur’an. Al-Qur’an itu sudah final, sudah sempurna dan 100% absolut benar, lantas jika berdasarkan riset yang dilakukan ternyata hasilnya bertentangan dengan gambaran yang dijelaskan dalam Al-Qur’an bagaimana ?. sebenarnya bentuk kekhawatiran semacam ini tidaklah perlu dikhawatirkan karena hakikat kebenaran antara manusia dan Allah sudahlah pasti berbeda, sehingga seandainyapun jika hal ini benar-benar terjadi, maka langkah pertama yang harus ditempuh adalah memperkuat keyakinan bahwasannya Al-Qur’an tidak akan pernah salah, dan juga karena esensinya manusia diciptakan dalam keadaan yang serba memiliki keterbatasan, sehingga sangat mustahil jika Al-Qur’an yang merupakan murni kalam Allah harus difonis salah.
Hal lainnya yang harus diperhatikan adalah, mungkin bagi sebagian orang yang pemahaman agamanya dapat dikatakan telah matang, mungkin dapat diatasinya dengan kematangan pengetahuan agama yang dimiliknya, akan tetapi lain halnya jika kita berbicara dari perspektif orang awam, karena bagi sebagian orang yang merupakan masyarakat awam tentu saja hal ini akan mempengaruhi keyakinan mereka terhadap keabsolutan keabsahan Al-Qur’an, yang dimana sangat erat kaitannya dengan bentuk keimanan kita kepada Allah SWT. Solusi terbaik adalah, sudah menjadi kewajiban kita sebagai ummat Rosulullah untuk saling mengingatkan dan menguatkan.
Baginda Rosulullah SAW telah mengingatkan kita sebelumnya, bahwasannya umat Islam akan mengikuti jejak beberapa golongan, setapak demi setapak hingga akhirnya mereka masuk ke lubang biawak sekalipunpun umat Islam akan tetap mengikutinya, kemudian ada sahabat yang bertanya, apakah mereka itu adalah Yahudi dan Nashrani, maka Rosulullahpun mengiakannya. Dari petikan makna hadis diatas seharusnya kita sebagai ummat Rosulullah sudah dapat memperkirakan bahwasannya setiap hari bahkan setiap detik kehidupan ummat Muslim selalu dibayangi dengan berbagai macam ancaman, terutama yang berkaitan dengan hal-hal yang ada hubungannya dengan akidah.
Terkait dengan hadis diatas, permasalahan ini erat kaitannya dengan keadaan ummat Muslim zaman sekarang, betapa tidak, sebuah persoalan yang pada awalnya ditentang keras oleh semua pihak karena bertentangan dengan tuntunan syari’at mulai diwajar-wajarkan. Salah satu contoh yang paling sederhana dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, pemberitaan media massa yang seolah-olah menuhankan ghibah, buhtan, fitnah, dan pornografi agar korannya habis terjual, jadi seolah-olah satu-satunya jalan agar media tersebut dapat menarik pembaca yang sebanyak mungkin adalah melalui hal-hal tersebut. Dan yang lebih parahnya lagi, gerakan penolakan yang dulu sering dilakukan oleh para ulama dan pemuka-pemuka agama justru semakin kendor dan terkesan acuh tak acuh. Nah, jika para ulama dan pemuka agamanya saja sudah acuh tak acuh, apalagi ummatnya yang masih minim dengan pengetahuan-pengetahuan agama.
Lalu bagaimana caranya kita dapat mengislamisasikan ilmu pengetahuan, jika mempertahankan posisi kita sebagai ummat Rosulullah yang kaffah saja kita tidak mampu ?
Wallahua’lam…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar