kembali terasa keheningan itu
menembus radikalnya harapan yang masih tersisa
semakin mengikis egoisnya deru sang waktu
dalam kepiawaian mulut ini dibalik kuasa lidah
tiada pernah tentu arah jalinan ini
selalu menghasilkan yang sulit dilogikakan
lidah ingin berdiskusi mencari tau
dicerna nalar mempertahankan kebodohan
lalu ego mempertahankan posisinya sebagai yang maha tau
tiada harapan lain yang diperoleh
setarakah hasil dari proses yang diussahakan?
kembali kuasa hening memupus radikalnya harapan sang pengharap
